Kamis, 23 April 2020

Mengenang 1997: Tahun Termanis Di Hidupku (Catatan Penutup)



Pemandangan bandar udara Juanda di Surabaya, sesaat setelah saya tiba dari Bali dalam penerbangan pulang dari Australia, di tanggal 9 Desember 1997. Tampak pesawat Airbus A330-300 PK-GPE dan Airbus A300 PK-GAD yang keduanya punya Garuda Indonesia. Sebuah pesawat Fokker 100 milik Sempati Air tampak teresembunyi di belakang.

Walaupun saya awalnya sudah memastikan untuk melanjutkan kuliah di Australia, namun akhirnya keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Padahal hasil ujian IELTS saya ternyata cukup memuaskan yaitu di angka 6.0.

 
Krisis ekonomi yang tadinya menyebabkan anak-anak Thailand keluar lebih awal dari St. Mark’s rupanya juga mempengaruhi saya juga, bahkan lebih parah lagi! Di akhir tahun 1997, krisis ekonomi Asia sangat parah mempengaruhi Indonesia. Tidak hanya menyebabkan ekonomi babak belur, tapi juga menyebabkan krisis politik di tahun berikutnya yang berujung kerusuhan, serangan teroris, kekacauan sosial, bahkan tumbangnya presiden!


Suasana pengumuman pengunduran diri Soeharto sebagai presiden Indonesia di tahun 1998. BJ Habibie yang berdiri di sebelahnya kemudian dilantik jadi presiden pengganti.

Ini kontras sekali dengan awal-awal tahun 1997 dimana semuanya kelihatan bagus, ekonomi kuat, dan Indonesia adalah negara yang cukup makmur. Di tahun 1998 Indonesia adalah negara yang keadaannya paling terpuruk di Asia Tenggara. Akibatnya, banyak negara memandang rendah Indonesia.. Hal ini membuat mendaftar visa ke Australia jadi jauh lebih sulit dibanding awal tahun 1997.Belum lagi karena nilai tukar Rupiah jatuhnya parah sekali, sehingga biaya kuliah kesana jadi 3-4 kali lebih mahal dari sebelumnya.
Dengan keadaan seperti ini, mustahil buat saya untuk kembali melanjutkan kuliah ke Australia. Bahkan berpergian ke luar kota saja adalah hal yang menakutkan karena banyaknya kerusuhan, maraknya pembunuhan, serta pengeroyokan massal.
Pada akhirnya, saya tidak punya pilihan selain kuliah di Indonesia. Dan ini malah jadi gegar budaya buat saya. Karena setelah sebelumnya kuliah di negara maju, dengan kualitas pendidikan yang sangat baik, saya harus puas beradaptasi dengan lingkungan yang tertinggal. Bahkan sempat mengalami kegiatan perpeloncoan yang saya benci. Benar-benar sangat menyakitkan buat saya.
Untungnya krisis ekonomi dan sosial akhirnya berakhir, dan Indonesia jadi negara yang stabil dan aman lagi. Walaupun Indonesia sekarang jadi negara demokrasi, bukan negara otoriter seperti dulu. Tapi ini tercapainya lama setelah saya lulus kuliah di Indonesia di pertengahan tahun 2000an. Pada saat itu kesempatan untuk kuliah Sarjana di Australia sudah menguap sama sekali.
Dan saya kecewa sekali karena tidak pernah kuliah Multimedia sama sekali, karena jurusan ini tidak ada di “universitas papan atas di Indonesia”. Tadinya saya sempat kuliah di sebuah universitas swasta di Surabaya, tapi jurusan Tehnik Informatika. Walaupun masih tentang komputer, saya kecewa sekali karena tidak menikmatinya.
Akhirnya saya meninggalkan kuliah ini, dan pindah ke Bandung di awal tahun 2000an untuk kuliah di tempat lain. Kali ini saya kuliah di perhotelan. Alasan saya mengambil kuliah ini adalah karena saya mencari program kuliah yang gampang, dengan kesempatan kerja yang besar. Walaupun akhirnya saya lulus kuliah disini, program kuliahnya beda jauh dengan bidang Multimedia yang dulu saya idam-idamkan.


Foto saya saat wisuda kelulusan kuliah di tahun 2006 silam. Tampak saya berfoto dengan mantan pacar saya yang penampilannya agak-agak mirip dengan Denise dari segi sorot mata hingga kulitnya yang putih bersih. 

St. Mark’s International College
Saya tidak pernah melihat kampusnya lagi sejak meninggalkan Australia.
Di awal tahun 2000an, ada kawan saya yang juga masuk kuliah disini. Dia bilang kalau tempatnya sudah banyak berubah. Lapangan sepak bola dan tenis sudah dibongkar, dan sekarang di situ dibangun apartemen. Mayoritas pengajar dan staff dari jaman saya dulu sudah banyak yang keluar saat kawan saya kuliah disana.
Kampus ini sempat beroperasi selama beberapa tahun kemudian sebelum tiba-tiba tutup tanggal 29 Januari 2010.  St. Mark's International College tutup karena masalah keuangan perusahaan induknya, GEOS, yang terpaksa harus menutup semua cabang usaha mereka di Australia.  Beberapa bulan kemudian di April 2010 perusahaan itu sendiri bangkrut. Gara-gara penutupan mendadak ini semua pelajar yang sudah terlanjur kuliah disana sempat tidak jelas statusnya. Tapi untungnya mereka kemudian ditampung di kampus-kampus lainnya.


Klipping berita tentang penutupan mendadak kampus St. Mark's International College di tanggal 29 Januari 2010. Tak lama kemudian perusahaan induknya, GEOS, ikut bangkrut.

Kampusnya sendiri kemudian dibongkar di tahun 2011. Namun tidak semua gedungnya dibongkar. Gedung kuno bekas tempat kantor administrasi dan kelas komputer, yang menghadap ke jalan Stirling Street, dipertahankan karena statusnya yang cagar budaya. Gedung ini sekarang dipakai oleh lembaga pendidikan lain bernama “Kingston International College”.


Bekas gedung kantor administrasi dan sebagian ruang kelas St. Mark's yang kini dipakai untuk Kingston International College.

Tapi bekas gedung kelas saya, halaman dengan air mancur dimana dulu saya suka nongkrong dengan Heinz dan Sung Ho, kantin tempat saya suka ngobrol dengan Keiko* setelah pulang kuliah, gedung olahraga, gedung perpustakaan tempat saya suka browsing internet gratisan, dan dimana Denise “mencium” saya, serta kolam renang tempat Denise melakukan “striptease”, semua sayangnya sudah tidak ada. Di tempatnya sekarang didirikan apartemen, yang kebetulan juga dinamai “St. Mark’s Apartments”.
Oh ya, Pacific Motel yang terletak di seberang jalan dari kampus juga sudah dibongkar dan diganti kompleks apartemen. Hotelnya sendiri tutup beberapa tahun sebelum St. Mark’s International College, dan sempat mangkrak bertahun-tahun sebelum dibongkar tak lama setelah kampus St. Mark’s.

Sung Ho-Park
Jauh sebelum K-Pop populer di Indonesia dan anak-anak tergila-gila dengan artis Korea serta pernak-pernik pop culture Korea, saya sudah punya kawan akrab orang Korea duluan!
Selama beberapa tahun setelah kita terakhir bertemu di Australia, saya masih sering kontak-kontakan dengan dia. Kami sering bertukar surat, dan saling berbagi kisah serta pengalaman kita masing-masing. Dari semua kawan saya dulu di Australia, dialah yang paling entusias untuk berkomunikasi dengan saya. Dari yang saya baca di suratnya, dia kelihatan senang sekali mendengar kabar dari saya.


Salah satu surat yang dikirim Sung Ho Park ke saya.

Kalau itu kurang, dia juga pernah mengirim satu box teh ginseng ke saya! Ginseng adalah bahan minuman herbal yang populer di Korea, jadi tidak heran kalau mereka bangga dengannya. Ceritanya begini, suatu hari bukannya menerima surat dari Sung Ho, saya malah menerima surat dari kantor pos yang berisi panggilan untuk mengambil barang dari Korea Selatan. Awalnya saya heran. Biasanya dia mengirim surat ke saya, tapi kok kali ini beda? Sayapun pergi ke kantor pos yang ditulis di surat untuk mengambil barang itu. Sesampainya disana dan menyerahkan surat, petugas kantor pos memberikan saya sekotak ukuran sedang ke saya. Sesampainya di rumah, saya buka kotak itu dan terkejut. Ternyata isinya teh ginseng beserta suratnya Sung Ho! Inilah barang paling istimewa yang pernah saya terima dari dia. Terima kasih Sung Ho!
Dengan makin populernya e-mail, kamipun beralih cara komunikasi menggunakan teknologi baru ini. Kitapun bisa berhemat uang dan waktu banyak sekali.
Namun sayangnya, sewaktu saya pindah ke Bandung di awal tahun 2000an, saya kesulitan untuk berkomunikasi ke dia. Akses internet susah sekali waktu itu. Dan karena jadwal kuliah yang padat, jeda waktu antara mengakses internet bisa lebih dari sebulan. Akibatnya akun e-mail saya dihapus oleh Hotmail, dan sayapun otomatis putus kontak dengan Sung Ho Park.
Andai saja waktu itu ada sebangsanya smartphone atau Wifi mungkin saya bisa lebih mudah untuk mengakses internet.
Sekarang saya kadang-kadang suka iseng browsing di sosmed atau Google, mencari-cari siapa tahu ada dia. Sayangnya, hasilnya nihil. Ada banyak orang Korea yang bernama “Sung Ho Park”, termasuk beberapa orang terkenal dan bahkan artis. Tapi sayangnya tidak satupun mirip dia.

Heinz Gubler
Seperti halnya Sung Ho, saya juga tetap menjalin komunikasi dengan Heinz setelah kita selesai kuliah. Awalnya melalui surat dan kemudian lewat e-mail. Sebagai kawan pertama saya yang orang Eropa, suratnya selalu terasa spesial.


Berfoto bersama Heinz Gubler di air mancur di halaman kampus St. Mark's International College.

Kontras dengan Sung Ho, isi suratnya Heinz lebih berwarna.



Lembar pertama surat Heinz yang bercerita tentang pengalamannya berpetualang ke Australia lagi, kali ini dengan pacarnya. 



Halaman kedua suratnya yang berisi sambungan cerita petualangannya di Australia, serta masa-masa penganggurannya, dan kekagumannya berteman dengan orang Asia untuk pertama kalinya.  


Halaman ketiga suratnya berisi kritikan Heinz terhadap watak isolasionisme orang Swiss, dan usulannya agar kita berpergian bareng lagi dengan kelompok yang lebih besar (yang sayangnya tidak pernah terealisir).

Dia bilang kalau dia sering sibuk ikut satu petualangan dan petualangan lainnya, disela-sela pekerjaannya sebagai mekanik. Dia berkunjung ke tempat-tempat eksotik di berbagai penjuru dunia. Dia terkadang menjelaskan kisahnya berkunjung ke Afrika, Amerika, atau mendaki dan main ski di pegunungan di Eropa.


Heinz Gubler saat berkunjung ke San Fransisco, Amerika Serikat, tahun 2005 silam.

Tidak seperti Sung Ho, waktu yang dibutuhkan untuk membalas surat saya lebih panjang. Ini karena dia hanya membalas surat saya kalau sudah balik ke rumahnya di Swiss.
Dan seperti halnya Sung Ho, sayangnya komunikasi kita terputus sewaktu saya pindah ke Bandung dan saya sering offline. Usaha saya untuk mencari dia di sosmed gagal terus. Saya sering ketemu orang Swiss yang namanya mirip dia, tapi wajahnya beda sekali.
Namun usaha saya mencari dia lewat Google beberapa tahun kemudian membuahkan hasil! Sewaktu melihat foto orang-orang bernama “Heinz Gubler” di Google tahun 2015 silam, saya tidak sengaja ketemu fotonya yang diambil tahun 2007 silam. Wajahnya tidak banyak berbeda dibanding terakhir saya lihat 10 tahun sebelumnya. Walaupun dia masih memegang kewarganegaraan Swiss, saya menduga dia mungkin pernah tinggal lama di Amerika.
Sayapun berusaha untuk mengontak dia, awalnya lewat atasan tempat dia bekerja, tapi kemudian lewat satu komunitas yang dia ikuti. Ketua komunitasnya rupanya kenal baik dengan Heinz dan membantu saya mencari dia, walaupun dia sendiri mengaku kalau sudah nggak kontak dengan Heinz sejak tahun 2014. Usaha ini membuahkan hasil karena akhirnya saya bisa menyambung komunikasi lagi dengan dia di tahun 2018 silam, setelah hampir 2 dekade tidak saling bertukar kabar.
Kamipun senang sekali bisa berkomunikasi kembali melalui e-mail (dan Whatsapp sejak tahun 2020). Saya beryukur bahwa dia masih sehat-sehat seperti dulu, dan sering berpetualang walaupun tidak sesering waktu dia masih muda. Sayapun juga terkejut rupanya dia masih berkomunikasi dengan Milo, mantan guru kita di St. Mark’s dulu.
Walaupun tidak terang-terangan bilang, saya dengar dia juga sudah pindah dari rumahnya yang lama di Winznau sejak pisah dengan pacarnya yang terdahulu.

Alvin Adhitya
Alvin adalah kawan orang Indonesia yang paling akrab dengan saya sewaktu di St. Mark’s dulu. Dan saya tetap berkontak-kontak dengan dia selepas kuliah di Australia. Tidak seperti saya, dia lebih beruntung karena bisa melanjutkan kuliahnya di Australia walaupun ada krisis ekonomi. Alvin akhirnya mengambil jurusan Marketing di Murdoch University.


Surat dari Alvin. Kalau nggak salah ini dikirim saat kuliahnya mau berakhir.

Walaupun dia bisa lanjut kuliah di Australia, imbas krisis ekonomi Asia sangat dirasakan sama dia. Dia bilang di surat-suratnya kalau jumlah mahasiswa Asia, terutama dari negara yang paling parah terimbas seperti Thailand atau Indonesia, makin berkurang seiring berjalannya waktu kuliah. Dia bahkan pindah dari kost di perumahan ke apartemen sharing di tempat kelas menengah kebawah di Perth untuk menghemat biaya.
Ironisnya, walaupun banyak mahasiswa Indonesia kesulitan ekonomi karena krisis ekonomi Asia, Alvin juga melihat perilaku tidak senonoh dan absurd yang dilakukan segelintir anak Indonesia yang memamerkan kekayaan mereka seperti mengendarai mobil mewah ke kampus atau pamer barang mewah lainnya. Anak-anak ini sering juga tidak masuk kelas dan tidak lulus semester. Mereka jelas menghambur-hamburkan uang orang tua mereka. Kadang kita mikir kok bisa mereka bisa begitu padahal di Indonesia semuanya lagi menderita? Apa mungkin mereka punya koneksi dengan keluarga Cendana?
Kerusuhan dan jatuhnya Suharto juga diliput dengan cara yang beda oleh media Australia dibanding Indonesia (yang hingga tumbangnya Suharto dikontrol sangat ketat). Alvin sering mengirim ke saya klipping koran Australia yang meliput gejolak politik di Indonesia dengan cara yang lebih vulgar daripada yang di koran Indonesia.


Karikatur di koran Sunday Times yang memuji Frank Sinatra dan mencemooh Suharto. Frank Sinatra meninggal dunia di saat yang sama dengan jatuhnya presiden Suharto.

Seperti halnya Sung Ho dan Heinz, saya putus kontak dengan Alvin sewaktu pindah dari Surabaya di awal tahun 2000an. Kita tidak pernah berkomunikasi lewat e-mail, jadi saya kehilangan kontak dengan dia. Saya menduga dia mungkin lulus dari Murdoch sekitar tahun 2004 atau 2005 dan mungkin bekerja di Indonesia.
Saya berusaha mencari dia di internet, entah lewat sosmed seperti Facebook, LinkedIn, Instagram, dan lain lain; atau browsing di Google. Tapi ya tidak ada hasilnya. Seperti halnya Sung Ho, semua orang bernama “Alvin Adhitya” di internet tidak satupun menyerupai dia.
Pernah saya menemukan satu profil orang bernama “Alvin Adhitya” di Facebook yang kuliah di Murdoch University. Tapi orangnya jauh lebih muda, dan lulusnya barusan (tahun 2018). Jelas orang ini bukan Alvin kawan saya.

Keluarga Siraj
Saya tidak pernah berkomunikasi dengan mereka sejak pulang dari Australia. Selama bertahun-tahun saya tidak pernah dengar kabar dari mereka. Tapi sekitar awal tahun 2000an, sewaktu berlibur di Bali, saya kebetulan ketemu mereka sedang berlibur disana (termasuk dengan Shahjehan). Baik Suhail dan Shimla sudah besar, bahkan Feroza baru saja melahirkan anak ketiga. Shahjehan sudah lulus dari Edith Cowan University, dan mau pindah ke pantai timur Australia untuk bekerja. Tapi saya tidak bertanya ke Siraj apa dia sudah dapat pekerjaan lebih baik.
Inilah terakhir kalinya saya ketemu mereka. Saya tidak pernah berhubungan dengan mereka setelah itu.

Kawan Indonesia Lainnya
Pada dasarnya saya tidak menjalin hubungan dengan anak-anak Indonesia selain Alvin setelah lulus dari St. Mark’s. Tapi kawan saya yang kuliah di St. Mark’s di awal tahun 2000an bilang kalau dia pernah ketemu Hudi. Hudi masih tinggal di Perth, dengan seorang cewek Jepang yang katanya pernah jadi kawan sekelas saya. Apa yang dia lakukan waktu itu tidak pernah dijelaskan.
Beberapa dekade kemudian di sebuah group Facebook, saya mendengar kabar tentang beberapa mantan kawan orang Indonesia di St. Mark’s. Cukup mengejutkan melihat mereka sudah tua semua. Saya bisa mengenali sebagian dari mereka, tapi ada yang pangling juga. Namun saya perhatikan ada satu profil dengan nama dan foto palsu yang saya duga adalah Hudi, karena dia selalu berusaha jadi pusat perhatian di group itu (seperti yang dia sering lakukan dulu di St. Mark’s). Nama profilnya “Hoodie Hood”. Fakta bahwa dia menggunakan nama palsu menimbulkan pertanyaan apakah dia tinggal di Australia secara illegal (mungkin untuk menghindari aparat penegak hukum menangkap dia) atau mungkin terlibat dunia kriminal….

Kawan Asia Lainnya
Seperti mayoritas kawan-kawan di St. Mark’s di Perth, Australia Barat, saya tidak berusaha untuk menyambung komunikasi dengan mereka setelah lulus. Saya kehilangan kontak dengan kebanyakan dari mereka.
Satu pengecualiannya adalah Reiko Matsui. Selama beberapa waktu setelah kembali ke Indonesia, kita sering bertukar surat dan kartu pos. Dia sering menceritakan kisahnya dan juga bertanya bagaimana keadaan saya. Sayangnya, seperti halnya kawan-kawan St. Mark’s lainnya, kami putus kontak sewaktu saya pindah ke Bandung di awal tahun 2000an.


Sebuah kartu pos yang dikirim Reiko Matsui.Wajahnya kelihatan samar-samar di stiker gambar di pojok kiri bawah kartu pos.

Seiring dengan munculnya sosmed internet di jaman sekarang, saya berusaha untuk berhubungan lagi dengan mereka, walaupun umumnya sia-sia. Pernah sekali saya ketemu profil kawan saya yang orang Thailand, Ake, di Facebook. Saya berusaha meng-add dia, tapi sepertinya ditolak. Mungkin dia sudah lupa saya, karena kita sudah lama sekali tidak berhubungan satu sama lain.

Kawan Eropa Lainnya
Walaupun saya sering ngumpul dengan kawan-kawan orang Swiss waktu istirahat, saya tidak meneruskan komunikasi dengan mayoritas dari mereka setelah pulang ke Indonesia. Walaupun saya pernah punya alamat kawan-kawan orang Swiss Perancis, saya tidak pernah berkirim surat dengan mereka setelah pulang ke Indonesia. Andai waktu itu kita masih saling berkomunikasi mungkin saya bakal lebih akrab dengan mereka karena mereka lebih ramah dibandingkan dengan yang orang Swiss Jerman.
Kadang saya mikir, kalau seandainya smartphone dan sosmed dulu sudah ada, mungkin saya masih berhubungan dengan mereka. Sayangnya waktu itu satu-satunya cara untuk berkomunikasi jarak jauh dengan ekonomis hanyalah melalui berkirim surat. Telepon sambungan internasional sangat mahal sekali. Dan penggunaan e-mail waktu itu belum umum.
Mungkin satu-satunya orang di kelompok ini yang masih berhubungan dengan saya pasca selesai kuliah adalah Maria Lüchinger. Maria adalah kawan akrabnya Denise. Dulu setiap saya ngobrol dengan Denise atau Heinz, Maria selalu ikut nimbrung. Walaupun bahasa Inggrisnya tidak bagus, dan dia agak malu-malu berinteraksi dengan orang asing, ini tidak mencegah kita untuk saling bertukar surat setelah kami pulang dari Australia.
Selama 2-3 tahun setelah selesai kuliah kami sering saling berkirim surat. Suratku ke dia biasanya dikirim bersamaan dengan yang untuk Denise. Tapi surat balasan Maria biasanya datang lebih dulu, dan isinya lebih panjang dari Denise. Padahal bahasa Inggrisnya agak belepotan.
Setiap saya membaca suratnya, saya sering heran dengan seringnya dia berjalan-jalan dalam setahun. Dia pernah bercerita pengalamannya jalan-jalan ke Uluru di Australia Tengah, atau ke tujuan wisata di laut Mediterrania. Dia tidak selalu berpergian dengan Denise, dan terkadang jalan sendirian. Orang Swiss kaya betul! Walaupun dia seumuran dengan saya, dan kerja sebagai buruh di negerinya, dia sering sekali berpergian kalau liburan musim panas.
Sama halnya dengan mantan kawan-kawan St. Mark’s, saya kehilangan kontak dengan dia sewaktu saya pindah kuliah di awal tahun 2000an. Tapi pernah saya sekali ketemu profil Facebooknya di tahun 2013. Mukanya masih sama seperti dulu, walaupun sekarang rambutnya dipotong pendek. Dia sekarang sudah menikah dan punya anak. Usaha saya untuk untuk meng-add dia gagal karena dia tidak membalas permintaan pertemanan saya.

Denise Loher
Denise adalah alasan utama kenapa saya mengenang tahun 1997 dengan indah sekali. Bisa dibilang dialah yang memotivasi saya untuk menulis cerita ini karena dia adalah gadis pertama yang membuat saya tergila-gila. Saya waktu itu benar-benar jatuh cinta dengan dia. Padahal dia sebenarnya sudah punya pacar di Swiss, dan sejujurnya dia terkadang merasa risih dengan saya kalau saya mengungkapkan kesukaan saya ke dia.
Kehadirannya memberikan warna-warna paling indah di hidup saya di Australia. Berkat dia, saya bisa mengatasi rasa malu-malu saya kalau berhubungan sama orang bule. Dan bahkan, saya jadi keranjingan cewek bule dan kepikiran untuk menikahinya supaya punya anak blasteran!
Seperti halnya mantan kawan-kawan dari St. Mark’s saya masih berhubungan dengan dia selama beberapa tahun di akhir dekade 1990an. Saya sering berkirim surat dengan dia, bahkan surat pertama dikirim waktu saya masih di Australia (walaupun waktu itu saya meminta dia untuk membalasnya ke alamat saya di Indonesia). Tadinya saya pikir dia mungkin mengacuhkan surat saya, karena waktu terakhir-akhir kita ketemuan, dia seperti sudah bosan sama saya.
 

Kartu-kartu pos yang dikirim oleh Denise buat saya. Yang diatas adalah kartu pos pertama yang dikirim Denise buat saya, sementara yang dibawah kalau nggak salah yang terakhir. Denise mengirim beberapa kartu pos ke saya, tapi hanya dua ini yang masih saya simpan sampai sekarang.

Tapi diluar dugaan, dia membalas surat saya! Nggak cuman sekali, tapi setiap saya kirim surat pasti dibalas! Walaupun balasannya selalu dalam bentuk kartu pos (balasan yang pelit dibanding surat panjang yang selalu saya kirim ke dia). Tapi setiap saya menerima kartu pos dari dia, rasanya seperti di surga saja. Berasa seperti ketemuan dengan dia lagi. Dan memegang kartu pos dengan tulisan tangannya bagaikan memegang tangannya lagi. Susah untuk diungkapkan betapa bahagianya saya kalau sudah menerima kartu pos dari Denise.
Perasaan baper yang akut ini mungkin berakar dari fakta kalau saya waktu itu terobsesi dengan Denise. Fakta bahwa dia adalah orang pertama yang membuat saya jatuh cinta yang dalam nggak ubahnya seperti membuat saya jadi memiliki ketergantungan emosi dengan Denise.
Walaupun dia selesai kuliah lebih awal dari saya, butuh waktu lama untuk melupakan dan melepaskan ketergantungan emosional dengan dia. Bahkan beberapa tahun setelah kita terakhir bertemu saya masih terobsesi dengan dia. Dia selalu muncul di pikiran saya, dan membuat cewek-cewek lain tidak menarik buat saya.
Saya berusaha keras untuk melupakan dia dengan mengalihkan perhatian ke “cewek mustahil” (seperti aktris atau musisi terkenal). Dulu cewek favorit saya biar saya bisa melupakan Denise adalah aktris Jennifer Love Hewitt.
Namun suatu waktu saya pernah nyaris bertemu dengan dia lagi. Ini terjadi sewaktu saya berkunjung ke Swiss di tahun 1999 silam. Sebelum berangkat, saya sebenarnya sempat memberi tahu dia tentang rencana kedatangan saya. Dan kita berjanji untuk bertemu begitu saya sampai di Swiss, dengan bantuan kakak saya yang tingal disana.
Sayangnya, karena saya berpergian dengan orang tua saya, mereka melarang saya pergi ke tempatnya Denise. Mereka mungkin tidak mengijinkan saya membina hubungan dengan dia. Kegagalan saya untuk ketemuan dengan Denise mungkin membuat dia kesal, dan dia kemudian mengungkapkannya di salah satu kartu pos yang dia kirim sepulangnya saya dari Eropa. Dia melampiaskan kekesalannya karena kita tidak bisa ketemuan, seakan-akan dia ingin sekali bertemu dengan saya lagi.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kitapun beralih cara komunikasi dari surat menyurat ke e-mail. Dengan cara baru ini komunikasi jadi lebih lancar, cepat, dan murah. Bahkan kita bisa lebih ekspresif kalau berkomunikasi karena kita bisa saling berkirim kartu selamat elektronik seperti lewat website Blue Mountain. Saya selalu merasa senang kalau menerima kartu ucapan selamat dari dia.
Tapi semua kebahagiaan itu berakhir sewaktu saya pindah dari Surabaya ke Bandung di awal tahun 2000an. Dan karena sempat lama tidak online, akun e-mail Hotmail saya terhapus dan saya kehilangan kontak dengan Denise. Akibatnya saya tidak bisa berkomunikasi dengan dia untuk waktu yang lama sekali! Bukan beberapa bulan, atau beberapa tahun, ujung-ujungnya saya tidak berkomunikasi dengan Denise selama lebih dari 1 dekade!
Dalam prosesnya, saya akhirnya bisa melupakan Denise dan tidak lagi terobsesi lagi dengan dia. Saya bisa hidup normal lagi walaupun hingga cerita ini ditulis saya masih melajang. Selama di Bandung, saya sempat berpacaran dengan beberapa cewek disana (walaupun sudah putus semua). Anehnya, banyak dari mereka punya ciri-ciri fisik mirip Denise: semuanya berkulit putih bersih, wajah semi Aria (karena banyaknya orang keturunan blasteran Eropa di Bandung), dan babyface. Saya kadang mikir apa saya benar-benar sudah melupakan Denise?
Di awal tahun 2010an, minat saya untuk bertemu lagi dengan Denise muncul lagi. Dengan bantuan sosmed seperti Facebook (atau pendahulunya seperti Friendster), saya mulai mencari-cari cewek dengan nama “Denise Loher”. Mayoritas orang Swiss, tapi ada juga yang dari Amerika, Australia, Brazil, atau bahkan orang Inggris keturunan Jerman. Tapi tidak satupun mirip Denise sama sekali.
Saya mulai mikir: apa Denise masih ada? Apa dia sudah meninggal, mungkin jadi korban kecelakaan atau insiden? Atau mungkin dia sekarang sudah berubah namanya?
Walaupun sempat menemui banyak halangan, saya terus mencari di Google orang yang bernama “Denise Loher” yang tinggal di Montlingen, Swiss. Seperti usaha-usaha terdahulu, saya sempat gagal. Entah cewek yang saya temui terlalu muda, atau mukanya kelihatan beda jauh.
Tapi suatu hari di tahun 2013, sewaktu saya melihat-lihat gambar di Google, saya penasaran dengan sebuah gambar. Waktu itu saya melihat foto sekelompok wanita pengurus sebuah sekolah taman kanak-kanak di Montlingen. Mereka adalah guru-guru dan pengurus sekolahnya. Walaupun gambar orangnya kelihatan kecil, saya bisa melihat dengan jelas kalau seorang diantaranya tampak seperti saya kenal. Walaupun dia kelihatan agak tua, wajahnya seperti wajah khas Jerman yang babyface yang pernah saya lihat sebelumnya.
Itu Denise!!!


Denise (tengah) saat menghadiri acara penerimaan penghargaan di tahun 2000an.

Sayapun cepat-cepat membuka websitenya, dan menemukan kalau Denise sekarang kerja di sekolah itu. Dugaan saya dia adalah kepala sekolah itu.  Dan  ternyata namanya sekarang menjadi Denise Hutter! Sayapun coba mencari nama “Denise Hutter dari Montlingen” di Google dan, voila! Rupanya disinilah dia. Akhirnya sayapun menemukan foto-foto terbaru Denise.


Denise (dua dari kiri) befoto bersama rekan-rekan kerjanya. Dia tampak agak gemukan dan kelihatan beda sekali dengan di tahun 1997.

Denise sekarang sudah lebih tua. Dia juga makin gemuk, dan wajahnya agak berkeriput. Tidak semulus sewaktu dulu saya masih ketemu sama dia. Dia juga sudah mengecat rambutnya dengan warna gelap (dulu di tahun 1997 rambutnya berwarna coklat kepirangan), dan rambutnya jadi agak lebih panjang. Walaupun sudah banyak berubah, wajahnya pada dasarnya sama seperti dulu.


Foto close up Denise sambil menggendong anaknya di tahun 2011 atau 2012 silam.

Kemudian saya mencari-cari di Facebook, dan surprise! Dia rupanya punya akun FB! Sayapun langsung meng-add dia, berharap semoga saja diterima. Beberapa hari kemudian, saya menerima notofikasi yang memberitahukan kalau saya diterima sebagai kawan Facebooknya.
Walaupun ada perkembangan positif, awalnya saya malu-malu untuk mengirim message ke dia atau mengomentari fotonya. Mungkin dia sudah lupa saya, atau tidak mau diganggu.
Namun segalanya berubah ketika suatu hari dia sendiri yang memulai chat di messenger FB. Dia bertanya nama saya dan apa saya dulu kuliah di Perth di tahun 1997, yang saya jawab iya. Diapun senang sekali karena kita bisa bertemu lagi. Saya cukup terheran-heran dengan balasannya yang entusias, mengingat dulu waktu terakhir-akhir ketemuan dia seperti sudah bosan sama saya.
Dia bertanya banyak tentang saya: dimana saya sekarang, apa yang saya lakukan, dan lain sebagainya. Kita juga berbincang-bincang tentang kampus kita dulu, serta fakta kalau sekolahnya sudah tutup dan bangunannya dibongkar.
Nah sekarang saatnya untuk mengungkapkan kebenarannya: Denise mengaku kalau dia sekarang sudah menikah dengan pacarnya. Dia adalah cowok yang sama dengan yang dulu membuat saya penasaran, dan frustasi waktu Denise bilang akan menikahinya. Mereka menikah tahun 2000 silam. Denise menambahkan kalau dia sempat kembali lagi ke Australia untuk bulan madu, walaupun kali ini dia pergi ke Sydney untuk perjalanan naik mobil karavan.
Karena nama keluarga suaminya “Hutter”, nama resminya sekarang adalah “Denise Hutter”. Ini untuk mengikuti peraturan di Eropa yang mengharuskan istri mengganti nama keluarganya dengan nama keluarga suami kalau sudah menikah. Selain itu dia juga sudah punya dua anak yang sekarang sudah mulai besar. Anak tertuanya bahkan lebih tua dari keponakan saya.
Kalau dipikir-pikir mungkin ada bagusnya juga bahwa kita sempat kehilangan kontak. Kalau saya waktu itu tahu dia menikah, saya mungkin bakal diliputi kesedihan yang terlalu dalam dan mungkin bisa jadi kaya orang gila! Sekarang sudah jelas bahwa harapan saya dulu bahwa hubungan kita bisa beranjak jadi lebih dari sekedar kawan pupus sudah.
Tapi saya mengikhlaskannya. Dari awal, sebenarnya mustahil untuk menikahi dia. Bukan karena kita berasal dari negara dan budaya yang berbeda, tapi lebih karena umurnya, sifatnya yang berubah-ubah dan fakta bahwa dia sudah menjalin hubungan asmara dengan orang lain. Belum lagi orang tua saya mungkin tidak akan menyetujuinya, halangan bagi saya akan makin banyak. Jadi saya memutuskan untuk mengalah dan mengikhlaskan dia menikah dengan lelaki lain.
Namun, mungkin karena saya emosi akibat “CLBK”, saya masih saja bertingkah sembrono ke dia. Suatu hari saya memposting semua foto dia yang saya ambil dengan kamera saya dulu ke dia. Masalahnya bukannya dikirim diam-diam, saya malah posting di profil saya dan nge-tag dia ke foto-foto itu. Rupanya ini membuat dia malu sekali dengan keluarganya. Dia tidak ingin suami dan anak-anaknya tahu tentang hubungan dia dengan saya atau Heinz. Diapun memarahi saya dan meminta saya untuk tidak dekat-dekat dengan kehidupan pribadinya. Sayapun meminta maaf dan memutuskan untuk menghapus foto-foto yang menyinggung perasaannya tadi.
Lalu profil Faebooknya seperti jadi diam. Semua pesan saya tidak pernah dibalas. Di balasan terakhir pesan messenger saya  dia mengaku sibuk dan kesulitan mencari waktu untuk menggunakan internet. Diapun mengaku kalau dia tidak begitu familiar dengan Facebook, jadi dia minta saya untuk memahaminya. Sayapun memahaminya dan memutuskan untuk menjauh sebentar dari dia. Rupanya percakapan ini adalah yang terakhir dari dia karena di tahun berikutnya dia sudah meng-unfriend profil Facebook saya, dan profilnya sendiri sudah tidak pernah diupdate sejak tahun 2014.
Saya tidak tahu apakah ini adalah benar-benar akhir dari hubungan saya dengan dia, atau mungkin saya harus mengikhlaskan kepergian Denise dari hidupku untuk selamanya. Tapi kalau mau jujur, saya mensyukuri bahwa saya pernah kenal dengan dia, dan berterima kasih sekali bahwa dia pernah membuat hidupku jadi indah sekali.


TAMAT!

Selasa, 21 April 2020

Mengenang 1997: Tahun Termanis Di Hidupku (Bagian 30)

Hari terakhir saya di Australia akhirnya tiba. Setelah berbulan-bulan saya bersenang-senang di Perth, saatnya mengucapkan selamat tinggal ke tempat yang indah ini.
Saya bangun pagi di tanggal 9 Desember 1997, dengan perasaan berat. Saya merasa tidak mau berpisah dan berharap andai bisa tinggal lebih lama lagi. Tapi masalahnya, semua yang membuat hari-hari saya indah di Australia sudah nggak ada. Jadi mau tidak mau saya harus pulang. Lagipula visa pelajar saya akan habis di akhir tahun ini.
Setelah bangun, saya sarapan dan kemudian mandi. Sewaktu bersiap-siap, saya ketemu Feroza lagi. Dia sudah pulih, tapi expresi wajahnya loyo sekali. Saya bertanya bagaimana keadaannya sekarang dan apa dia sudah agak baikan. Biasanya dia selalu menjawab pertanyaan dengan nyaring dan ceria, tapi kali ini dia menjawab “Ya” dengan nada pelan dan lemas. Jalannya juga agak terhuyung-huyung. Anehnya, Siraj juga sudah pulang dan berlaku seperti tidak ada kejadian apa-apa tadi malam. Karena kejadian semalam cukup sensitif, saya memilih untuk tidak membahasnya dengan dia.
Begitu saya sudah berpakaian dan siap jalan, orang tua saya datang menjemput saya. Mereka disambut oleh Siraj dan anak-anak. Wahyu* dan Shahjehan juga menyambut mereka, sementara Feroza tidak seperti biasanya kelihatan malu-malu. Orang tua saya, sewaktu melihat kondisi Feroza yang agak sakit-sakitan bertanya apa dia baik-baik saja. Feroza menjawab kalau dia baik-baik saja. Tetap saja orang tua saya tidak yakin karena penampilannya kontras sekali dengan sewaktu bertemu dengan orang tua saya sebelum-sebelumnya.
Setelah mengunggah semua barang saya ke taxi, saya bersalaman dengan semuanya. Siraj dan Shahjehan memeluk saya dan berkata kalau mereka akan kehilangan saya. Siraj juga bilang kalau saya adalah anak paling baik yang pernah tinggal di rumahnya. Feroza, masih terguncang oleh kejadian semalam, mengucapkan selamat jalan dengan pandangan kosong. Kalau saja dia dalam kondisi sehat, mungkin dia akan mengucapkannya dengan lebih hangat. Wahyu* juga mengucapkan selamat jalan. “Wah sekarang saya jadi anak tunggalnya Siraj dong” kata dia sambil nyengir.
Sayapun naik ke taxi dengan perasaan berat. Sekarang saya meninggalkan kota yang pernah saya anggap sebagai “rumah di perantauan”. Perth adalah tempat yang sangat sepi tapi damai dan menyenangkan buat saya. Saya sudah mengalami momen-momen membahagiakan disini, dan saya merasa tidak mau berpisah dengannya. Saya sudah bertemu dengan orang-orang paling menyenangkan, merasakan saat-saat paling membahagiakan, dan belajar hal-hal baru dengan cara menyenangkan di Perth. Susah buat saya secara emosional untuk meninggalkan ini semua.



Kota Perth di tahun 1997 silam, dilihat dari King's Park.

Kami berkendara melewati jalanan Perth yang sepi di pagi hari. Walaupun hari itu adalah hari kerja, lalu lintas komuter pekerja dan pelajar yang berangkat tidak banyak kelihatan, paling tidak seingat saya begitu. Mungkin karena waktu itu kita melewati daerah-daerah yang tidak banyak sekolah atau perkantoran, jadi tidak kita tidak melihat banyak lalu lintas.
Begitu taxi kita memasuki jalan Horrie Miller Drive, yang merupakan jalan utama menuju bandara, saya merasa tegang tapi juga seperti senang.



Jalan Horrie Miller Drive yang dulu merupakan jalan akses utama ke terminal internasional bandar udara Perth.

Kita sudah dekat bandara Perth, dan jelas waktu saya di Perth dan Australia tinggal menghitung jam-jam terakhirnya. Begitu kita sampai di terminal bandara, bapak saya membayar taxi dan kita turun serta menurunkan barang kita. Saya mengambil trolley dan menaruh semua barang bawaan kita sebelum masuk ke kounter chek in.


Deretan trolley di depan terminal bandara Perth. Saya tidak ingat dulu trolleynya gratis atau berbayar.

Kami memasukkan semua barang bagasi kita dan memilih kursi masing-masing. Begitu mendapatkan boarding pass, kami langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan. Bandara Perth adalah bandara kecil dengan sedikit yang bisa dilihat, jadi maklum kalau kita langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan. Pemeriksaan passport berjalan lancar semua, dan tidak lama kemudian kita sudah duduk di ruang tunggu keberangkatan.



Ruang tunggu keberangkatan internasional di terminal bandara Perth di tahun 1998. Di tahun 1997 modelnya masih persis seperti ini.

Ini pertama dan satu-satunya saya ke airport Perth saat hari terang benderang. Di kunjungan-kunjungan sebelumnya (saat datang, dan juga menjemput orang tua), saya biasanya datang saat hari sudah gelap. Jadi untuk pertama kalinya saya bisa melihat airport dengan jelas.
Di landasan ada banyak pesawat terbang yang diparkir. Mayoritas punya Qantas dan Ansett. Tapi ada satu pesawat Boeing 747-200 milik Garuda Indonesia.



Pesawat Boeing 747-200 Garuda Indonesia di bandar udara Zurich.

Kalau saja saya memilih terbang dengan Garuda, saya mungkin bakal naik pesawat ini. Tapi karena waktu itu saya penasaran pingin merasakan naik maskapai penerbangannya Australia, saya nggak keberatan. Bahkan waktu itu saya memandang rendah pesawatnya Garuda karena kelihatan tua, kusam, dan agak berkarat. Apalagi karena waktu itu jadwalnya Garuda hanya beberapa menit setelah Qantas, saya mendengar pengumuman kalau jadwalnya ditunda karena masalah teknis. Saya bisa melihat ekspresi muka para penumpang Garuda yang jelas kecewa.
Walaupun belakangan saya juga menyesali keputusan untuk tidak terbang dengan Garuda hari itu. Seandainya waktu waktu itu saya memilih naik Garuda, mungkin itu bakal jadi penerbangan pertama dan satu-satunya naik pesawat Boeing 747 Garuda. Sesuatu yang sudah saya idam-idamkan sejak kecil, tapi tak pernah terealisasi sama sekali!
Untuk pertama kalinya, saya bisa melihat landasan bandara Perth di siang hari. Dan sekarang saya mendapat jawaban jelas dari keheranan saya waktu pertama mendarat di Perth beberapa bulan lalu. Waktu itu saya bingung melihat ada pohon di sebelah landasan pacu. Rupanya ada banyak tanaman tinggi di sebelah landasan. Ini memberikan pemandangan yang unik buat yang pertama mendarat disini. Saya tidak pernah melihat pemandangan serupa di Indonesia, karena tanaman di sekitaran landasan tidak boleh lebih tinggi dari ½ meter. 



Pemandangan landasan parkir bandara Perth, lengkap dengan pesawat Boeing 777-200ER milik Singapore Airlines di latar depan. Semak-semak dan pepohonan tinggi tampak di latar belakang, sementara terminal domestik tampak di kejauhan.

Di seberang landasan pacu, rupanya ada terminal bandara lagi. Landasan parkirnya didominasi airline seperti Qantas, Ansett, serta maskapai-maskapai lokalan. Terminal tersebut adalah bangunan terminal pertama bandara Perth. Dulu semua penerbangan (termasuk internasional) datang dan berangkat dari sana. Tapi semenjak pembukaan terminal baru, terminal lama dipakai untuk penerbangan domestik saja. Yang membuat saya awalnya heran adalah kedua terminal ini dipisah landasan pacu. Ini pertama kalinya saya melihat bandara yang kedua terminalnya dipisah landasan pacu. Transfer dari satu terminal ke terminal lain mungkin bakal repot karena jaraknya jauh dan jadwal bis transfer jarang-jarang.
Tapi yang luar biasa dari semuanya adalah pemandangan gedung-gedung pencakar langit di pusat kota Perth yang tidak hanya kelihatan jelas, tapi seperti dekat. Padahal jarak dari bandara ke pusat kota lumayan jauh. Mungkin karena efek visual akibat tidak adanya bangunan diantara kedua tempat, pusat kota bisa kelihatan dekat dengan bandara. Pemandangan ini membuat daerah bandara kelihatan urban, padahal daerah sekelilingnya adalah daerah pedesaan.



Gedung-gedung pencakar langit di tengah kota Perth tampak dengan jelas dari bandara.

Dan terakhir, akhirnya saya melihat pesawat yang akan membawa saya pulang kembali ke Indonesia sudah siap di gate keberangkatan. Pesawat itu adalah Boeing 767-300 milik Qantas. Badan pesawat berwarna putih dengan ekor merah dan tulisan “QANTAS” di bagian atas.



Pesawat Boeing 767-300 Qantas yang akan membawa saya kembali ke Indonesia.

Dibanding dengan pesawat Boeing 747 Garuda tadi, pesawat ini lebih bersih, segar, dan berkilau di pagi hari.
Saya sudah sering melihat pesawat Qantas kalau mereka singgah di bandara internasional besar di Indonesia, seperti Jakarta atau Bali. Setiap melihat mereka, saya membayangkan kapan bisa naik. Hari ini impian saya itu jadi kenyataan.
Setelah beberapa menit menunggu, panggilan untuk naik pesawat diumumkan. Para penumpang mengantri di gate untuk masuk ke pesawat. Saya merasa senang sekali! Begitu boarding pass kami diperiksa kami lalu berjalan turun melalui garbarata untuk masuk ke pesawat. Saya bisa merasakan adrenaline dan rasa bahagia yang membara. Saya benar-benar senang sekali pagi itu.
Begitu kita masuk pesawat, para penumpang disambut oleh awak kabin yang berseragam ala orang kantoran. Mereka memakai jas biru tua dan baju hem putih, dikombinasikan dengan dasi kemerahan. Ini pertama kalinya saya naik pesawat yang awak kabinnya orang bule. Dan kontras dengan awak kabin Indonesia, mereka lebih ekspresif dan berbicara dengan nada agak tinggi. Ini bukan karena mereka kasar, tapi karena memang itu budaya mereka.



Contoh seragam awak kabin Qantas di tahun 1997.

Saya juga perhatikan satu fitur aneh di pesawat ini. Walaupun ukurannya mirip Airbus A300, pesawat ini tidak punya pintu masuk deret tengah. Beberapa operator Boeing 767-300 ada yang memilih 3 deret pintu masuk, tapi Qantas hanya memilih 2 (depan dan belakang). Berarti semua penumpang masuk (dan keluar) pesawat lewat pintu depan. Saya tidak tahu kenapa begini tapi ini membuat pergerakan penumpang agak repot. Saya duduk di jendela sebelah kanan, melihat bagian belakang sayap. Saya duduk di sebelah ibu saya. Karena kelas ekonomi Boeing 767 punya konfigurasi kursi 2-3-2, bapak saya duduk di deretan tengah.
Sewaktu proses boarding, saya perhatikan ada satu bapak-bapak orang Australia yang bisa bahasa Indonesia, dan terus mengomel-ngomel dalam bahasa Indonesia ke istrinya yang orang Indonesia. Selama di Australia, saya tidak pernah sekalipun ketemu orang bule Australia yang bisa bahasa asli saya. Jadi melihat orang Australia fasih bahasa Indonesia adalah pemandangan unik.
Sementara menunggu pesawat berangkat, saya melihat segala aktivitas diluar jendela. Para petugas pengatur bagasi sibuk memuat barang penumpang. Di sebelah pesawat saya ada pesawat Boeing 747 milik Garuda tadi. Dari kursi saya, saya bisa melihat beberapa mekanik berusaha memperbaiki pesawat itu sebelum dia bisa terbang. Hingga saat pesawat saya siap berangkat, sepertinya pekerjaan mekanik itu jauh dari selesai.
Begitu semua penumpang duduk, dan semua bagasi selesai diunggah ke dalam pesawat, akhirnya pesawat kami siap berangkat. Kapten pilot mengumumkan melalui pengeras suara agar pintu pesawat ditutup, dan setelah itu pesawat didorong ke belakang menuju taxiway. Begitu ijin diberikan, pesawat saya perlahan-lahan bergerak menuju landasan pacu. Sementara pesawat berjalan menuju landasan pacu, para awak kabin melaksanakan peragaan keselamatan penerbangan. Sejujurnya saya lebih tertarik melihat keluar karena saya ingin melihat pemandangan menit-menit terakhir saya di Australia.
Pesawat kami bergerak perlahan menuju ke landasan pacu sebelum berhenti di titik penungguan di utara airport. Begitu clearance diberikan, pilot membuka gas lebar-lebar, dan pesawat kita melaju dengan kecepatan tinggi di landasan pacu. Beberapa detik kemudian, pesawat mengangkasa dengan mulus dan kita sudah lepas landas! Selamat tinggal Australia! Sampai jumpa lagi! Semoga bisa kembali lagi untuk melanjutkan studi seperti rencana saya.
(Catatan: video dibawah ini bukan punya saya, dan saya taruh untuk ilustrasi. Pesawat di video berangkat dari arah yang berlawanan dengan saya, tapi type dan airportnya sama).


Daratan dibawah makin lama tampak makin jauh setelah pesawat makin tinggi mengangkasa. Dari jendela pesawat saya bisa melihat bahwa biarpun tadi sepanjang perjalanan ke bandara suasana daerahnya seperti pedesaan, ternyata bandara Perth dikelilingi kompleks industry dan pelataran kereta api barang. Dan dari atas saya juga bisa memastikan kalau pusat kota benar-benar jauh dari bandara. Cukup aneh juga bisa kelihatan dekat kalau dilihat dari terminal bandara.
Tak lama kemudian pesawat berputar ke kanan menuju arah utara. Dari jendela pesawat saya bisa melihat seluruh daerah metropolitan Perth. Saya bisa melihat secara keseluruhan kota yang pernah jadi rumah saya selama hampir 6 bulan terakhir, dari udara. Perlahan-lahan kota ini hilang dari pandangan begitu pesawat bergerak makin ke utara. Begitu Perth hilang dari pandangan, pemandangan di bawah digantikan oleh tanah gersang yang cukup luas dengan hamparan tanah berwarna kemerahan.
Terbang di siang hari bisa memberikan kita kesempatan melihat seperti apa benua Australia itu. Walaupun pemandangan di kota Perth dan daerah sekelilingnya tampak kehijauan, daerah di utaranya tampak kering dan gersang. Sepanjang mata memandang, langitnya cerah dan nyaris tanpa awan sama sekali! Tidak heran musim panas di Australia bisa menggigit panasnya.



Pemandangan di luar jendela saya. Bisa dilihat betapa gersangnya daratan di bagian barat daya Australia.

Begitu lampu mengencangkan sabuk pengaman dimatikan, para awak kabin mulai berkeliling untuk membagikan cemilan kacang ke penumpang. Kontras dengan cerita ibu saya tentang awak kabin yang melawak di penerbangan sebelumnya, kali ini mereka tampak lebih serius dan langsung menjalankan tugas mereka. Saya tidak melihat ada hal yang istimewa dari mereka.
Selama penerbangan, mereka memutar film “Conspiracy Theory” yang diperankan Mel Gibson di layar di depan kabin.


Semua penumpang sudah mendapatkan earphone yang ditaruh di bungkusan di kursi depan, jadi kami menonton film sambil menikmati penerbangan. Saya sebenarnya tidak suka filmnya karena tidak ngefans dengan jalan ceritanya. Yang saya ingat, film ini punya sound effect yang lumayan berisik sampai-sampai saya terkejut! Tapi saya tidak punya pilihan lain karena Walkman saya sudah saya taruh di tas di bagasi pesawat.
Makanan disajikan di tengah penerbangan saat penumpang menikmati film. Ada 2 menu makanan yang ditawarkan. Yang satu Asia, sementara yang lainnya barat. Saya memilih makanan barat dengan menu Lasagna. Makanannya rasanya enak dan cocok buat menemani menonton film dan melihat pemandangan. Walaupun saat filmnya tambah seru, saya sempat hampir tersedak makanan. Begitu makanan habis, para awak kabin mengambil kembali semua tray makanan dan kami melipat kembali meja makannya.
Saya kemudian rebahan dan duduk santai. Terkadang saya melepas earphone sambil menikmati pemandangan di luar. Pemandangannya masih didominasi benua Australia yang kering kerontang dengan tanah berwarna kemerahan. Sepanjang penerbangan saya tidak melihat awan sama sekali. Nggak ada satupun sepanjang mata melihat. Jadi melihat pemandangan tanah yang merah dengan langit yang biru benar-benar spektakuler. Sayang saya tidak memotret pemandangan ini.
Setelah berjam-jam terbang diatas Australia, pesawat kita akhirnya meninggalkan wilayah Australia. Saya melihat pantai utara Australia perlahan-lahan menghilang di kejauhan. Sekarang saatnya mengucapkan selamat jalan karena saya sekarang sudah tidak di Australia. Pesawat kita terbang makin jauh ke utara menuju kepulauan tropis Indonesia.
Filmnya akhirnya selesai, dan kebetulan pesawat kita juga hampir sampai tujuan. Setelah film utama selesai, awak kabin memutar film tentang Indonesia yang dibuat oleh rumah produksi Australia. Walaupun sekilas mirip film dokumentasi yang dibuat di Indonesia, sentuhan Australianya kelihatan mencolok sekali.
Film documenter ini menampilkan banyak atraksi wisata di Indonesia, walaupun mayoritas Bali (ya jelaslah karena kita kesana dan Bali adalah tujuan wisata nomor 1). Tapi yang membuatnya berbeda adalah pilihan lagu latarnya (yang mengkombinasikan instrument tradisional Indonesia dan lagu disco barat) dan semua orang Indonesia yang di film itu bisa bicara bahasa Inggris dengan aksen yang sempurna!
(Video dibawah ini contoh video yang biasanya diputar di pesawat Qantas tujuan bali, tapi di tahun-tahun barusan).


Selama saya tinggal di Australia, semua orang Indonesia yang saya kenal kalau bicara bahasa Inggris selalu ada aksen khas yang membedakannya dengan native speaker, tidak peduli semahir apapun mereka menguasai bahasa Inggris. Jadi begitu melihat orang-orang Indonesia, apalagi dari golongan rakyat biasa, bisa bicara bahasa Inggris secara lancar tanpa aksen aneh jelas sangat-sangat mengejutkan!
Pesawat kami perlahan-lahan turun untuk persiapan mendarat. Lampu kenakan sabuk pengaman dan dilarang merokok kemudian dinyalakan. Semua penumpang dan awak kabin harus duduk. Begitu kita mendekati Indonesia, cuacanya berubah drastic. Sementara di Australia langitnya bersih dan cerah, di Indonesia cuacanya mendung pekat dengan sedikit badai. Bahkan saya tidak bisa melihat daratan sama sekali!
Begitu pesawat makin rendah, kita memasuki lapisan awan tebal yang menyebabkan pesawatnya berguncang-guncang. Saya jadi agak ketakutan. Tapi tak lama kemudian kita keluar dari awan dan pulau-pulau menghijau khas Indonesia akhirnya tampak di bawah. Selamat datang di Indonesia!
Rupanya pesawat kita datang dari arah timur bandara, dan akan mendarat menghadap ke barat. Pesawat lalu berbelok ke kiri, dan roda pendarat serta flap dikeluarkan. Saat pesawat makin rendah, pulau-pulau kehijauan dibawah tampak makin dekat. Kalau seandainya cuacanya cerah, kita bisa melihat gunung Agung juga. Pesawat terbang rendah diatas pelabuhan Benoa, kemudian jalan bypass Ngurah Rai, lalu beberapa detik kemudian roda pesawat menyentuh landasan pacu dan kitapun mendarat di Bali. Saya akhirnya kembali ke Indonesia!


(Catatan: walaupun penerbangan di video itu bukan Qantas, tapi pesawat itu mendarat melalui jalur yang sama dengan penerbangan saya. Bahkan cuacanya mirip!)
Saya tiba-tiba merasakan gelora semangat di diri saya. Bukan karena kita akan liburan, tapi karena sebentar lagi saya akan bertemu keluarga dan kawan. Pastinya menyenangkan bisa ketemu keluarga lagi setelah berbulan-bulan tinggal di luar negeri. Dan saya tidak hanya membawa oleh-oleh, tapi juga cerita-cerita menarik juga.
Setelah pesawat melambat, pilot mengarahkan pesawat menuju ke landasan parkir bandara. Seingat saya, para penumpang langsung berdiri dan mengambili barang-barang mereka dari lemari penyimpanan diatas saat pesawat masih berjalan menuju tempat parkir (sekarang ini dilarang dan penumpang harus duduk sampai pesawat berhenti di tempat parkirnya).
Begitu pesawat kami sampai di tempat parkirnya, awak kabin membuka pintu pesawat agar penumpang bisa keluar dari pesawat. Karena kita tidak tergesa-gesa, kami menunggu sampai mayoritas penumpang keluar sebelum kami ikut keluar pesawat. Para pramugari dan pramugara, yang menunggu di dekat pintu mengucapkan selamat jalan ke kita.
Saat diluar pesawat, saya tiba-tiba disambut oleh hawa panas dan lembab ala negara tropis. Karena sudah lama tinggal di tempat beriklim suptropis, badan saya “lupa” bagaimana rasanya di tempat tropis. Otomatis saya langsung berkeringat banyak. Padahal saya keluar dari pesawat lewat garbarata dan tidak memakai jaket.
Terminal bandara Ngurah Rai Bali masih menggunakan bangunan tahun 1960an yang dikembangkan di tahun 1980an dan 1990an (tapi masih kecil dibanding terminal bandara yang sekarang). Dibanding terminal bandara Perth, terminal ini rasanya kalah bagus dalam hal kenyamanan dan kapasitas. Antrian pemeriksaan passport agak panjang karena jumlah meja dan petugas yang ada kurang. Selesai pemeriksaan passport, kami menuju ke tempat pengambilan bagasi. Pemeriksaan pabean berjalan tanpa masalah. Dulu pemeriksaannya tidak seketat sekarang. Kalau jaman sekarang ketat sekali, bahkan barang kita juga ikut diperiksa x-ray saat keluar.



Area pengambilan bagasi di terminal bandara Ngurah Rai yang lama.

Begitu kita keluar dari terminal bandara, kami disambut oleh segerombolan pengemudi taxi yang menawarkan layanan mereka. Mereka terkadang bisa menyebalkan karena teriak-teriak di muka kita dan bahkan mengejar kalau kita menolak. Tapi berkat mantan kawan kuliah bapak saya (yang sudah saya temui sebelum berangkat di bulan Agustus lalu) ada yang menjemput kita dari bandara. Kali ini beliau datang dengan istrinya dan juga sopirnya. Mereka juga akan membawa kita keliling Bali dengan mobil ber AC yang nyaman.
Kami menungu masa transit dengan jalan-jalan di sekeliling Kuta dan Jimbaran. Saya tidak ingat tempat apa saja yang kita kunjungi. Yang saya ingat kita sempat makan siang di pantai Jimbaran, makan ikan bakar sambil menikmati pemandangan pantai serta lalu lintas penerbangan bandara Ngurah Rai di kejauhan.



Pantai Jimbaran terkenal dengan masakan ikan bakarnya.

Saat kita makan siang, teman bapak saya bertanya bagaimana kuliah di Australia. Saya bilang enak sekali dan saya menikmatinya. Dia juga bertanya tentang rencana saya setelah ini, yang saya jawab kalau saya akan kuliah. Beliaupun bercanda “wah setelah tinggal lama di Australia bahasa Inggrismu pasti bagus! Kamu jadi kaya orang Australia sekarang!”
Setelah makan siang, kita pergi ke rumahnya untuk mandi dan ganti baju, karena penerbangan ke Surabaya berangkat menjelang maghrib. Kami juga sempat bersantai dan ngobrol-ngobrol di rumahnya. Hawa lembab, walaupun tidak nyaman buat mereka yang belum pernah ke negara tropis sebelumnya, enak buat tidur siang. Saya juga sempat tiduran sebentar. Hawa tropis membuat tidur siang terasa nyenyak sekali.
Sekitar jam 5 sore, kami kembali lagi ke airport. Kali ini kita diantar ke terminal domestik. Pintu masuknya terletak di sebelah terminal internasional. Setelah kami didrop dan pamit dengan kawan bapak saya, kami masuk ke dalam untuk check in. Kali ini kita akan terbang naik pesawat Merpati Nusantara Airlines dari Denpasar ke Surabaya.
Terminal domestik bandara Ngurah Rai sesak sekali. Waktu itu bangunannya sudah tua dan ketinggalan jaman, serta masih model ala tahun 1960an atau 1970an. Bahkan dia jarang direnovasi dibanding terminal internasional. Suasananya tampak tidak menggairahkan. Para penumpangnya didominasi orang Indonesia, serta beberapa orang asing yang sudah tua. Nggak ada cewek bule cakep lagi yang kelihatan. 



Area check in terminal domestik lama bandara Ngurah Rai Bali.

Setelah check in dan memasukan barang bawaan ke bagasi, kita naik menuju ruang tunggu diatas untuk menunggu penerbangan kami. Tidak seperti penerbangan sebelumnya, kali ini saya tidak begitu bersemangat. Saya tahu saya akan bertemu kembali dengan keluarga dan kawan, tapi juga kembali ke dunia yang tidak sewarna-warni dan bervariasi seperti waktu di Perth.




Ruang tunggu keberangkatan lama yang sederhana dan membosankan di bandara Ngurah Rai Bali.


Saya mengisi waktu menunggu dengan melihat-lihat keluar jendela, melihat landasan bandara. Ruang tunggunya penuh dengan penumpang. Pesawat Boeing 767 Qantas yang membawa saya balik tadi sudah nggak ada. Ada satu Fokker 28 yang akan membawa saya pulang ke Surabaya. Dan ini ternyata penerbangan terakhir saya naik pesawat jenis ini.




Seperti halnya penerbangan ke Australia di bulan Agustus lalu, di penerbangan balik dari Bali ke Surabaya saya juga naik pesawat Fokker 28 milik Merpati.


Sementara menunggu keberangkatan, saya perhatikan bapak saya kelihatan ngobrol serius dengan seorang bule. Saya penasaran dan mendekat. Sewaktu melihat saya mendekat, bapak saya memperkenalkan saya dengan orang bule itu. Rupanya dia adalah seorang professor dari Edith Cowan University yang berpergian dengan istri dan anak-anaknya untuk bertemu kawannya di Malang dan menghadiri resepsi pernikahan disana. Berarti kita akan terbang dengan pesawat yang sama ke Surabaya. Kita sempat ngobrol lama saat menunggu keberangkatan kita.
Tidak lama kemudian pengumuman boarding diumumkan di pengeras suara bandara, dan para penumpang mulai bergerombol untuk naik ke pesawat. Karena pesawat kita tidak menggunakan garbarata, para penumpang harus berjalan di landasan menuju ke pesawat. Beberapa petugas membantu mengarahkan penumpang menuju ke pesawat.
Pesawat kami sudah menunggu di landasan. Kita akan naik pesawat Fokker-28 persis seperti waktu berangkat dulu. Karena pintu masuknya cuma satu, para penumpang harus mengantri diluar saat kelompok penumpang pertama memasukkan barang mereka ke kompartemen bagasi diatas.
Saat kita menunggu giliran naik, tiba-tiba saya mendengar suara gemuruh keras pesawat yang mendarat. Rupanya itu pesawat Boeing 747 Garuda yang tadi saya lihat di Perth! Akhirnya mereka sampai di Bali setelah delay lebih dari 4 jam! Saya tidak bisa membayangkan betapa kesal dan capeknya para penumpang penerbangan itu. Dan buat mereka yang transit ke penerbangan lain (seperti yang saya naiki sekarang), pasti bakal jadi mimpi buruk.
Beberapa menit kemudian antrian di depan berkurang dan kami akhirnya naik keatas pesawat. Diatas, kami disambut beberapa pramugari yang memeriksa tiket kita dan menunjukkan kursi kita. Banyak penumpang sudah duduk, sementara sebagian kecil masih mencari kursi mereka. Kursi kami terletak di depan pesawat. Begitu kita menaruh bagasi diatas, kamipun langsung duduk di kursi kita.
Tapi sewaktu saya duduk, kursi saya kok terasa sempit? Sandaran kursinya terasa rendah sekali sehingga kepala terekspose. Kalau itu kurang, ruang kakinya juga terasa sempit. Sangat tidak nyaman! Seingat saya waktu saya pergi dari Surabaya ke Bali beberapa bulan yang lalu, dengan type pesawat yang sama, kursinya lebih enak dari ini. Apa kursinya sudah ditambah, atau mungkin karena saya tambah gemuk?
Beberapa menit kemudian, pintu pesawat ditutup dan pesawat didorong mundur sebelum mulai berjalan menuju landasan pacu. Suasana di kabin terasa membosankan dibanding pesawat Boeing 767 Qantas tadi. Nggak ada system hiburan video atau music. Dan interiornya kelihatan tua.
Tak lama kemudian pesawat kami sampai di landasan pacu. Semua awak kabin sudah duduk dan lampu pasang sabuk pengaman dinyalakan. Pilot membuka gas lebar-lebar dan pesawat kita pun melaju di landasan pacu sampai mengangkasa. Saya dengan gugup melihat pemandangan di luar. Duduk di kursi kecil ini malah memberikan kesan kalau penerbangan ini kaya naik roller coaster daripada terbang sungguhan.


(Catatan: video diatas hanya untuk ilustrasi karena pesawatnya berangkat dengan arah yang sama dengan pesawat saya. Bahkan pemandangannya mirip).
Begitu pesawat mengangkasa, saya bisa melihat pemandangan diluar. Pesawat kita terbang tinggi diatas Samudera Hindia. Karena saya duduk di kiri, saya tidak bisa melihat pulau Bali. Tapi sebagai gantinya, saya bisa melihat matahari terbenam di kejauhan. Pemandangannya spektakuler sekali. Dan karena pesawat kita menghadap ke barat, matahari terbenamnya jadi terasa lebih lambat karena pesawat kita mengejar matahari.
Sewaktu melihat matahari terbenam, saya mengenang kembali betapa indah dan menyenangkan hari-hari saya di Perth. Walaupun awalnya saya sempat tegang, tapi begitu beradaptasi dengan kehidupan dan perkuliahan disana, semuanya terasa menyenangkan sekali. Apalagi sewaktu saya mulai punya kawan-kawan bule dari Swiss. Dan puncak dari semuanya adalah sewaktu saya jatuh cinta dengan Denise. Bahkan hingga saat terbang pulang, bayang-bayang wajahnya Denise masih terbayang di pikiranku. Andai saya bisa membawanya ke Surabaya....
Saat matahari terbenam, saya bersyukur bahwa tahun ini sudah menjadi tahun yang sangat menyenangkan dan berharap tahun-tahun berikutnya akan menjadi tahun yang lebih menyenangkan lagi.
Sekarang saatnya saya mengakhiri cerita ini, dan semoga anda semua puas dengan cerita yang anda baca selama ini.


Selamat jalan 1997! Kau sudah menjadi tahun terindah di dalam hidupku….