Senin, 23 Maret 2020

Mengenang 1997: Tahun Termanis Di Hidupku (Bagian 4)

Dengan berakhirnya kegiatan sekolahan, maka sekarang saya mulai menapaki tahap kehidupan berikutnya: kegiatan perkuliahan.
Walaupun saya waktu itu sudah fix akan mengikuti kuliah di Australia, bapak saya menyarankan saya untuk mencoba ujian masuk universitas negeri (UMPTN, sekarang SMPTN). Saya sebenarnya setengah hati untuk mendaftar karena tak satupun jurusan yang ditawarkan waktu itu menarik buat saya. Semuanya kelihatan membosankan, biasa-biasa saja, dan kemungkinan hanya membuat saya terbebani.
Tapi ya saya tetap mencobanya. Saya ingat, waktu itu saya dan kawan baik saya Yulianto Ariwibowo mendaftar ujian ini di kampus IKIP Surabaya di Ketintang (sekarang Universitas Negeri Surabaya). Saya tidak ingat jurusan dan universitas apa yang saya pilih, tapi saya menemui ujiannya sulit sekali. Soal-soal mata pelajarannya sebenarnya diluar apa yang sudah saya pelajari di sekolahan.
Jadi tidak aneh kalau akhirnya saya tidak lulus UMPTN. Tapi karena waktu itu saya lebih fokus untuk kuliah di luar negeri, saya tidak merasa terlalu terbebani atas kegagalan tersebut. Buat saya waktu itu apa yang terjadi dengan ujian saya di Indonesia nggak ada pengaruhnya buat saya.
Persiapan buat berangkat kuliah di Australia lumayan sibuk juga. Saya harus menjalani beberapa pemeriksaan medis untuk mendaftar visa pelajar Australia. Saya ingat, tes kesehatan tersebut dilakukan di sebuah klinik di jalan Kusuma Bangsa yang kini tinggal kenangan. Lokasinya di seberang Grand City Mall sekarang.
Tes kesehatannya meliputi pengambilan sample air seni, foto x-ray dada, dan pemeriksaan mata. Syukurlah tes darah tidak termasuk karena saya waktu itu takut jarum. Hasilnya kemudian dikirimkan ke Kedutaan Besar Australia, melalui agen. Waktu itu mendaftar visa pelajar Australia cukup mudah dan tidak memerlukan sesi tanya jawab di kedutaan.
Agen yang mengurus pendaftaran juga sering melakukan pengarahan kepada calon mahasiswa dan pelajar mengenai bagaimana kehidupan di Australia, dan termasuk bagaimana menghindari masalah dan mengikuti aturan yang ada disana. Beberapa hal yang mereka jelaskan pada dasarnya sesuai kenyataan, tapi setelah saya disana saya menemui kalau banyak juga yang tidak benar. Pada dasarnya saya menangkap kesan kalau pihak agen terlalu melebih-lebihkan, seperti mereka menganggap orang bule sebagai ras unggul dibanding kita.


Buku panduan buat calon pelajar atau mahasiswa Indonesia yang mau belajar di Australia, agar memahami seluk beluk peraturan dan birokrasi di Australia.

Saya ingat bagaimana mereka menakut-nakuti calon pelajar saat presentasi dengan membuat cerita yang dilebih-lebihkan tentang bagaimana orang Australia menegakkan disiplin (sesuatu yang kemudian saya temui tidak sepenuhnya benar).
Karena yang datang ke presentasi juga anak-anak umur SMA, mereka juga menjelaskan tentang “boarding school” atau sekolah asrama dimana para pelajar harus tinggal di asrama di sekolahan, dan harus mengikuti disiplin ketat yang ditetapkan sekolah, mirip seperti barak tentara. Saya tadinya sempat gemetar juga mendengar itu, repot juga kalau harus tinggal di tempat seperti itu. Tapi kemudian mereka mengklarifikasi kalau saya tidak akan masuk ke sekolah seperti itu.

 Contoh interior asrama sekolahan di Australia. Foto ini diambil beberapa tahun belakangan. Yang jaman dulu tidak semewah ini.
  
Ketika hari keberangkatan mulai dekat saya mulai mempersiapkan apa-apa yang dibutuhkan buat disana. Mulai dari pakaian (katanya hawanya bakal dingin sekali waktu saya datang), dan juga tetek bengek hiburan. Saya membeli kaset-kaset lagu buat hiburan, serta player Walkman untuk mereka. Saya juga merekam beberapa lagu dari CD ke kaset kosong. Beberapa CD berasal dari koleksi kakak saya yang dia beli di Swiss (kakak saya waktu itu kuliah di Swiss dan lagi liburan).
Saya ingat, salah satu lagi yang membuat saya baper adalah lagu “Lovefool” dari The Cardigans, yang di tahun 1997 lagi populer. Iramanya yang asyik di dengar, dan suara vokalisnya yang lembut-lembut menggairahkan membuat saya merasa ingin jatuh cinta dengan cewek.



Lagi lainnya yang cukup membuat saya baper adalah “Will You Still Love Me” dari Chicago. Tema lagunya mirip lagu pernikahan.



Waktu itu saya belum sadar kalau kedua lagu ini bakal jadi soundtrack dari kehidupan pelajar saya di Australia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar